Emak Ingin Naik Haji – Resensi Film

Terus terang, kalau tidak karena mengantarkan Ibu saya (baca tulisan kemarin), saya tidak akan tertarik menyaksikan film ini. Tapi lumayanlah, jadi ada bahan untuk ditulis di blog ini kan? Hehe. Walau tentu kalau untuk menonton Anda musti mengejar ke bioskop 21 kelas dua sekarang, seperti Atrium atau Cijantung, karena sudah turun dari yang kelas satu apalagi yang berlabel XXI.

Yah, film ini adalah produksi dari Mizan Production. Setelah sukses di debutnya dengan Ayat-Ayat Cinta, Mizan yang sebenarnya jagoan di dunia perbukuan turun bertarung di jagat perfilman. Tentu saja, sesuai business core-nya, film yang disponsori juga yang bernuansa Islami. Karena itu bagi yang tidak suka film bernafas agama, jangan nonton deh. Inilah kelemahan utama film ini, terasa sekali nuansa dakwahnya yang agak menggurui. Apalagi dengan tampilnya “bintang tamu” ustadz Jeffry Al-Buchori yang bagi saya agak terlalu dipaksakan peran dan dialognya. Tapi sebaliknya bagi yang ingin menonton film bernuansa agamis dengan alur lambat dan agak “mellow”, film ini pilihan pas. Atau Anda ingin mengajak keluarga, baik ayah-ibu Anda atau malah anak yang masih kecil, film ini juga lumayan bagus.

Ceritanya, sesuai judul film ini, berkisar pada perjuangan seorang emak dan anaknya untuk mewujudkan mimpi naik haji. Untuk pertama kalinya, sebuah film diangkat dari cerpen dan bukan novel. Cerpenisnya tentu saja terkenal di kalangan pecinta sastra Islami, yaitu Asma Nadia.

Alkisah adalah seorang pemuda bernama Zein (Reza Rahadian) yang berprofesi sebagai pelukis. Ia tinggal bernama emaknya (diperankan aktris drama lawas Aty Kanser/Cancer) dalam keadaan serba berkekurangan. Cerita dibuka dengan Zein yang tengah melukis Ka’bah tertidur hingga waktu shubuh tiba dan dibangunkan oleh emak. Penggambaran adegan ini oleh sutradara Aditya Gumay cukup menyentuh, apalagi mengingat kondisi rumah mereka yang layak mendapatkan santunan program semacam “Bedah Rumah”: sangat sederhana.

Lukisan itu akhirnya tidak termasuk lukisan yang dijual oleh Zein, melainkan digantung di dinding rumahnya yang kumuh dan terbuat dari triplek. Dari sini, saya merasa aneh, alangkah tidak pantasnya lukisan sebagus itu digantung di dinding sejelek itu. Tapi itulah film. Kelemahan itu masih nampak lagi nanti, saat adegan Zein sedang menjual lukisannya di pinggir jalan. Karena bagi saya yang cukup tahu harga lukisan dan pigura, agak aneh ada lukisan  -apalagi lukisan kaligrafi- dijual cuma seharga 200-300 ribuan, apalagi lukisannya setara lebar kertas A1. Harusnya di sini agak lebih teliti.

Saat Zein sedang berupaya membantu emaknya inilah datang mantan istrinya meminta uang karena anaknya yang bernama Akso sakit. Ada dialog lucu di sini, saat istrinya meminta uang dan Zein menukas kenapa tidak meminta sama suaminya yang pegawai negeri. Malah dibalas si mantan istri yang di sini jadi tokoh antagonis selain seorang politikus yang nanti akan saya ceritakan dengan menjelaskan kesialan si suami yang motornya hilang sementara uang kreditannya masih nyicil dari kantor. Zein kemudian mengejek sang mantan istri, “Dulu lu ninggalin gue karena duit. Sekarang kawin sama laki yang juga kagak beduit. Gimana sih?” Saya tersenyum simpul sih lebih karena ingat pengalaman pribadi (eits, curcol alert!).

Nah, si mantan istri tak tahu diuntung ini kemudian yang menghabiskan uang tabungan si emak yang baru disetorkan lima hari sebelumnya ke bank yang jadi sponsor film ini. Alasannya lagi-lagi karena si Akso anaknya Zein sakit. Maka, melayanglah 5 juta tabungan si emak bertahun-tahun dalam semalam. Dan sesudah uangnya diberikan, emak kemudian membaca Al-Qur’an di dalam kamar dengan suara parau sambil menangis. Saya ikut menangis di adegan ini, menyadari sulitnya mendapatkan uang dalam hidup apalagi bagi orang seperti emak, ditambah kerinduan saya yang sama dengan emak terhadap tanah suci. Saat Zein melihat emaknya mengaji sambil menangis, ia bertekad mendapatkan kembali uang emak yang 5 juta itu.

Dalam upaya mendapatkan kembali uang lima juta itu, Zein berupaya mencuri uang dari juragan haji Saun (diperankan Didi Petet). Ini adalah tokoh protagonis seorang muslim pengusaha kampung yang kaya raya. Digambarkan saking kayanya saat itu mereka hendak berumrah keenam kalinya, sementara haji sudah tiga kali. Saya sangat suka saat digambarkan kontras itu, karena keluarga emak ternyata seringkali diminta membantu keluarga juragan haji Saun. Terutama saat ada perayaan, seperti ratiban menjelang keberangkatan umrah mereka itu. Lucunya, anak-anak mereka ‘nyeleneh’, sebuah penggambaran realita yang apik. Yang sulung lelaki bernama Dika, masih duduk di bangku SMA dan menemukan konflik dalam pelajaran agama yang diterimanya dengan informasi yang didapatnya dari internet. Sementara yang bungsu perempuan (namanya saya lupa) dan masih duduk di bangku SMP, ternyata ingin umrah karena perginya bersama Dude Herlino, bahkan ia menyiapkan kostum khusus untuk berfoto bersama Dude di Mekah nanti. Ada bloopers dari dialog karakter ini saat ia membatalkan rencana umrah dirinya dan keluarganya hanya karena Dude batal berangkat. Biro perjalanan haji yang juga sponsor film ini ditampakkan jelas suasana kantornya pun tidak berupaya mengkonfirmasi kepada juragan haji Saun dan hanya pasrah saat si anak yang masih SMP dengan jumawa membatalkan rencana umrah. Aneh!

Kembali ke Zein yang sempat ingin mencuri tas juragan haji Saun karena saat ia membantu istri juragan haji berbelanja di supermarket ia melihat sang haji sedang menghitung uang yang banyak di dalam koper. Saat berbelanja inilah Zein ternyata memungut kembali kupon undian yang dibuang bu Haji. Kupon itu didapat karena berbelanja sebanyak lebih dari tiga juta dan berhadiah umroh. Nah, si Zein yang di malam hari usai berbelanja itu kembali masuk ke dalam rumah juragan haji Saun dan berhasil masuk ke dalam kamar. Namun ia urung mencuri saat melihat ada Al-Qur’an tergeletak di kasur dalam keadaan terbuka. Zein ingat kembali pada emaknya, suara mengaji emaknya terngiang. Haji Saun memang sedang membaca Al-Qur’an saat mendengar suara berisik yang ditimbulkan Zein untuk kemudian turun meminta hansip mengecek. Zein sempat dikejar orang-orang yang menyadari ada maling, namun berhasil lolos. Di sini walau memenuhi keinginan penonton, adegan lolosnya Zein dari kejaran orang sekampung juga agak aneh sebenarnya.

Kalau dua kisah yaitu keluarga emak dan juragan haji Saun sudah bertemu di awal film, ada karakter lain yaitu politikus korup bernama Joko Satrianto yang ingin naik haji cuma karena hendak memasang titel “H” di depan namanya. Gunanya adalah agar ia memenangkan pilkada sebagai walikota tahun depan. Pemasangan karakter ini membuat film ini bak film festival ala JIFFEST karena menggunakan pola multi-plot script. Saya jadi teringat Crash (2004) atau Collateral (2004) jadinya, walau tentu kerumitan ceritanya tak sebanding.

Bagusnya, tanda tanya mengapa tokoh ini dimunculkan baru terjawab menjelang akhir film. Kupon undian yang diambil Zein dari tempat sampah hypermarket segera diisi olehnya pasca ia berhasil masuk rumah meloloskan diri dari kepungan orang sekampung yang mengejarnya karena berusaha mencuri di rumah juragan haji Saun. Dan ternyata kupon itu kemudian berhasil memenangkan undian. Celakanya, saat berusaha mencari emak untuk mengabarkan kabar gembira ini, ia tertabrak mobil si politikus. Dan kejadian pasca tertabraknya Zein inilah yang kemudian membawa cerita pada akhir film yang bagi saya agak klise.

Khusus untuk politikus ini, saya acungi jempol pada detail cerita yang jelas ada dalam realita dimana ia ternyata selingkuh dengan sekertarisnya. Perselingkuhan ini kemudian diketahui istrinya (diperankan Henidar Amroe dengan baik) karena BlackBerry si sekertaris ketinggalan di mobil sang politikus. Sang istri kemudian mencoba memeras suaminya sendiri dengan mengancam bila tidak memenuhi akan disebarkan lewat media. Tapi, sang suami tidak tahu kalau yang memeras adalah istrinya sendiri sampai supirnya memberitahu. Dan saat sedang bertengkar dengan istrinya itulah ia menabrak Zein. Yang membuat saya suka dari detil tokoh antagonis ini adalah foto-fotonya sedang bermesraan dengan sang sekertaris amat mirip dengan foto-foto asli yang ada dalam realitas berita tentang Max Moein, anggota DPR-RI dari FPDIP yang dipecat oleh BK-DPR karena masalah yang sama.

Pendek cerita, film ini happy ending kok. Cuma agar menghindari kategori spoiler alert, maka ending film tidak saya ceritakan. Yeah, lumayan kok buat memberi semangat agar terus berjuang dalam hidup! Apalagi bagi saya yang kadar imannya masih cetek, apalagi duitnya. Semoga ALLAH memberi semangat dan keberkahan bagi orang-orang yang berjuang!

Kunjungi RESENSI-BHAYU untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

visit resensi-bhayu com

About these ads

3 responses to “Emak Ingin Naik Haji – Resensi Film

  1. Ping-balik: Emak Ingin Naik Haji : Resensi-Review Bhayu·

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s