Inglourious Basterds: Movie Review

Semula saya mengira judul film ini adalah Indigenous Basterds, akan tetapi saat googling ternyata judulnya adalah Inglourious Basterds. Memang ada sedikit keterangan bahwa film ini mulanya berjudul Indigenous saat masih tahap screening, tapi kemudian diganti Inglourious saat edar tanpa penjelasan alasannya. Sedangkan kata “Basterds” merupakan pelesetan dari kata “Bastards”, namun tidak ada penjelasan resmi kenapa kata itu dipelesetkan.

Menonton film ini harus menyiapkan diri menyaksikan adegan vulgar. Bukan, bukan karena film ini jorok atau berbau pornografi, tapi film yang dibintangi Brad Pitt ini sangat sadis. Bagi yang mengerti atau toleransinya tinggi, tingkat kesadisan adegan dalam film ini sangat superlative sehingga tampak hiperbolik dan berlebihan, akibatnya malah jadi aneh dan lucu. Jadilah film ini masuk genre black comedy atau komedi satir. Sebuah film yang tampaknya jadi eksplorasi kreativitas sutradara Quentin Tarantino yang terkenal karena film-film berkualitasnya.

Karena komedi, maka banyak bagian film ini yang tidak masuk akal. Hanya saja penonton yang tidak tahu sejarah mungkin akan bingung, karena film ini mengambil setting sejarah Perang Dunia II lengkap dengan tokoh-tokoh yang ada faktual secara historis. Hanya saja, karakter dan tingkah laku tokoh-tokoh historis itu tentu saja tidak sesuai aslinya. Sedangkan, para tokoh utama film ini adalah kelompok tentara bernama sesuai judulnya yaitu “Inglourious Basterds” yang sama sekali fiktif.

Alkisah, di masa pendudukan Nazi Jerman atas Eropa saat Perang Dunia II, sejumlah tentara A.S. direkrut sebagai regu khusus. Tugas mereka bukanlah untuk berperang frontal, melainkan untuk menyebarkan teror di kalangan Nazi Jerman. Namun dalam prakteknya korban mereka kebanyakan adalah tentara Jerman, tidak perlu anggota partai Nazi atau mesin militernya seperti Gestapo dan S.S. Kelompok Inglourious Basterds ini bak hantu karena beroperasi dalam diam, namun hasilnya nyata, musuh yang menjadi korbannya tewas secara mengenaskan. Bahkan, bagi yang tidak tahan kepada penggambaran darah, di film ini begitu vulgarnya darah bertebaran di sepanjang film. Misalnya ada adegan tentara Jerman yang tertangkap kelompok ini dipukuli dengan tongkat baseball sampai mati, bahkan dikuliti kepalanya.

Keberadaan kelompok ini membuat Hitler marah. Penggambaran Hitler sebagai orang kuntet pun cenderung menghina. Maka, ia memerintahkan upaya khusus untuk menangkap atau membasmi kelompok ini. Upaya pembasmian ditangani sendiri oleh Kolonel Hans Landa, Kepala Keamanan Hitler, yang memiliki julukan seram yaitu “Pemburu Yahudi”.

Dalam kesempatan yang tidak diduga, Hitler dan seluruh petinggi Nazi Jerman direncanakan akan menghadiri pemutaran perdana film berjudul Stolz der Nation karya Goebbels, Menteri Propaganda Nazi Jerman. Film ini sendiri mengisahkan keheroikan seorang sniper atau penembak jitu Nazi Jerman bernama Prajurit Zoller, yang konon pernah menewaskan banyak tentara A.S. dalam aksinya. Pemutaran perdana ini dilakukan di bioskop milik seorang wanita Yahudi yang telah beralih identitas bernama asli Shosanna Dreyfus. Seluruh keluarga wanita ini dibantai oleh Kolonel Landa sewaktu dirinya masih anak-anak di peternakan milik tetangganya karena mereka disembunyikan di sana. Jadi, si pemilik bioskop punya dendam pribadi dan hendak membunuh sang kolonel.

Sementara di sisi lain, kelompok Inglourious Basterds juga mendengar rencana pemutaran film perdana ini dan menyadari ini adalah kesempatan emas untuk mengakhiri Perang Dunia II lebih awal karena semua petinggi Nazi Jerman hadir bersamaan di satu tempat. Maka, mereka merancang rencana bernama Operasi Kino berbasis pada penyamaran tiga orang anggotanya yang bisa berbahasa Jerman dan bantuan dari agen rahasia mereka yang adalah seorang aktris Jerman bernama Bridget von Hammersmark.  Ketiga orang ini akan menyamar masuk ke bioskop dengan membawa bom dan menjadi pembawa bom bunuh diri. Sialnya, penyamaran mereka terbongkar seorang mayor S.S. yang berada di La Louisiane, bar tempat pertemuan ketiga anggota itu dengan Bridget, sehingga terjadi tembak-menembak yang mengakibatkan tewasnya ketiga anggota Inglourious Basterds dan terlukanya kaki sang aktris agen, selain semua tentara Jerman di bar itu juga tewas. Akhirnya, sang komandan kelompok Inglourious Basterds yaitu Letnan Aldo Raine (diperankan oleh Brad Pitt) terpaksa menyamar bersama ketiga anggotanya untuk bisa masuk ke bioskop. Bridget yang memiliki tiket masuk dan dikenal luas di kalangan perfilman Jerman terpaksa digips kakinya guna bisa menyelundupkan tiga orang anggota kelompok Inglourious Basterds yang menyamar sebagai orang Italia. Hal itu didasari anggapan bahwa penyamaran sebagai warga negara asing lebih aman, karena mereka tidak bisa berbahasa Jerman. Ternyata, sang kolonel bisa berbahasa Italia sementara para penyamar ini justru bahasa Italia-nya sepatah-sepatah. Saya tertawa terbahak-bahak di sini, apalagi akting Brad Pitt yang bergaya bak Don Vito Corleone yang diperankan Marlon Brando dalam film Godfather (1972) dengan memajukan dagunya seolah sudah membuat dia bak orang Italia asli. Setelah melalui lika-liku, penyamaran dua orang anggota Inglourious Basterds yaitu Letnan Aldo Raine dan Pfc Utivich dapat diungkap dan keduanya ditangkap oleh sang kolonel, bahkan Bridget pun dibunuh olehnya, sementara dua orang lainnya yaitu Sgt Donny Donowitz dan Pfc Omar Ulmer dibiarkan tetap berada di dalam bioskop membawa bom. Sementara pemilik bioskop yang ditaksir oleh sang sniper yang jadi bintang film dalam film tentang dirinya sendiri itu malah terlibat tembak-menembak dengan Zoller, sang sniper. Maka, Shosanna dan Zoller sama-sama tewas. Namun upaya sang pemilik bioskop untuk membakar gedung bioskop tetap terlaksana karena pembantunya yang berkulit hitam tetap menjalankan rencana tersebut. Hitler yang menonton di podium juga tewas diberondong oleh Donowitz dan Ulmer setelah keduanya berhasil melumpuhkan penjaga.

Sang kolonel yang menangkap Letnan Aldo Rained dan Pfc Utivich rupanya pintar bernegosiasi dan meminta bicara dengan jenderal dari A.S, komandan dari Letnan Aldo Raine. Kolonel Landa kemudian menjelaskan bahwa ia turut berperan membunuh Hitler dan meminta agar semua kejahatannya selama bersama Nazi Jerman diampuni dan diberikan perlindungan bila menyerah kepada A.S. Sang kolonel malah meminta bintang penghargaan tertinggi A.S. yaitu “Congressional Medal of Honour” sebagai agen ganda A.S. yang membantu membunuh Hitler. Padahal, sang kolonel bukanlah agen ganda dan ia justru bersiasat dengan itu. Di akhir cerita, sang kolonel dan ajudannya membawa letnan  dan anak buahnya ke garis perbatasan. Di sana, bergantilah posisi Nazi Jerman dari yang menawan jadi yang ditawan, dan sebaliknya. Agar ada kenang-kenangan atas sang kolonel, Letnan Aldo Raine kemudian memutuskan memberikan “hadiah” kepadanya dengan menggoreskan lambang Nazi Jerman dengan pisau di dahi sang kolonel.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s