Tulisan ini bisa dipandang cuma menambah ribut-ribut dari jauh soal Malaysia yang hobi menyinggung perasaan dan harga diri bangsa kita. Tentunya, ini terkait dengan pencantuman gambar tari Pendet asli Bali dalam iklan pariwisata resmi “Visit Malaysia 2009″. Walau iklan itu disebutkan bukan dari pemerintah Malaysia melainkan dari promosi film dokumenter bertajuk Enigmatic Malaysia yang ditayangkan oleh Discovery Channel (klik di sini). Jadi, kalau Anda sudah malas membaca polemiknya di media massa, jangan lanjutkan membaca. Akan tetapi, kalau Anda ingin perspektif lain soal kasus ini, yuk kita bahas bersama.
Dalam soal Malaysia ini, sebenarnya ada sejumlah unsur yang terlibat dan saling terkait. Saya coba mendaftarnya, (angka dipakai hanya untuk daftar, bukan sebagai urutan prioritas):
- Harga diri atau gengsi bangsa Indonesia
- Rasa bangga Malaysia
- Kinerja birokrat Indonesia
- Kinerja birokrat Malaysia
- Sentimen antar bangsa
Untuk yang pertama, tentu inilah yang banyak dikemukakan dalam pemberitaan media massa kita. Sebaliknya, kasus pencurian hak cipta atau klaim kepemilikan atas budaya Indonesia ini sama sekali tidak mendapatkan perhatian dalam media massa Malaysia. Sebenarnya hal ini tidak perlu diherankan, karena di Malaysia medianya memang relatif lebih dikontrol oleh pemerintah. Mirip dengan kondisi kita di era Orde Baru.
Selain itu, masalah harga diri dan gengsi bangsa Indonesia yang terusik memang jelas akan lebih menjadi masalah di Indonesia daripada Malaysia. Sebaliknyalah bila kejadiannya kita mengklaim Kelantan sebagai wilayah kita misalnya, tentu media di Malaysia akan ribut. Rasa bangga warga Malaysia terhadap keberhasilan ekonomi negerinya wajar saja. Akan tetapi harus diingat Indonesia pernah mengalami masa keemasan pada dekade 1980-an saat “booming minyak”. Malaysia juga banyak mengirim putra-putri terbaiknya untuk belajar di Indonesia pada dekade 1970-an hingga 1980-an. Malaysia bertekad menyusul dengan mencanangkan Vision 2020 pada tahun 1991. Ingatlah, saat itu Indonesia masih tetap berjaya bahkan di tahun 1995 mengadakan “Pesta Ulang Tahun Emas Kemerdekaan RI” dengan sangat megah.
Nyatanya, hanya dalam tempo sekitar satu dasawarsa, Malaysia mampu menyusul dengan hebat. Menara kembar Petronas sebagai “mercusuar” dibangun. Sementara pembangunan “Menara Jakarta” di kawasan eks-bandara Kemayoran tak kunjung terlaksana. Demikian pula dibangun berbagai sentra kebudayaan baru seperti KLCC (Kuala Lumpur Cultural Centre). Sementara kita cuma punya GKJ (Gedung Kesenian Jakarta) peninggalan kolonial Belanda. Kalaupun ada Teater Tanah Airku dan Balai Sarbini yang dipugar lagi, tetap saja kalah megah dengan KLCC. Juga pembangunan areal Putra Jaya sebagai “Sillicon Valley”-nya Malaysia. Sementara kita cuma punya area semacam JIEP (Jakarta Industrial Estate Pulogadung) atau kawasan berikat yang tidak berorientasi teknologi tinggi. Malah, PTDI yang sempat jadi kebanggaan bangsa dibiarkan (atau disengaja) hancur. Padahal, di Asia, baru Jepang, Korea Selatan, India dan Indonesia saja yang mampu membuat pesawat.
Kinerja birokrat kita juga menjadi problema tersendiri. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik,SE misalnya pernah menghimbau agar Pemda mendaftarkan karya budaya di wilayahnya ke lembaga hak intelektual saat membuka acara Nusa Dua Fiesta pada 21 Oktober 2007 (klik di sini). Bahkan saat batik diklaim pula oleh Malaysia, Jero Wacik mengulang pesan senada seraya meyakinkan pemerintah akan mendaftarkan paten (seharusnya hak cipta) kekayaan budaya Indonesia. Jero Wacik juga menegaskan bahwa Indonesia punya pengalaman mendaftarkan keris dan wayang sebagai warisan budaya tak benda dunia yang diakui milik Indonesia (klik di sini). Meski punya pengalaman atas dua kekayaan budaya Indonesia itu, sepertinya kinerja pemerintah masih kurang cepat. Kasus pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia bukan kali pertama terjadi. Sebelum Tari Pendet, ada batik, lagu Rasa Sayange, reog Ponorogo, hombo batu, tari Folaya, wayang, dan sejumlah budaya kuliner seperti rendang dan laksa.
Saya jujur tidak tahu apa masalahnya birokrat kita dalam melakukan pendaftaran sehingga terkesan kalah cepat dari Malaysia. Yang jelas, birokrat Malaysia tampak santai dan arogan menanggapi masalah klaim tersebut (klik di sini). Kalau ia mengatakan dalam wawancara tersebut Indonesia tidak dapat membuktikan wayang dari Indonesia dan menyatakan wayang adalah budaya Hindu, ia keliru besar. Sebab, wayang yang ada sekarang adalah modifikasi dan asimilasi dengan budaya Islam dan itu tercatat jelas dalam Babad Tanah Jawi yang naskah aslinya ada di Kraton Yogyakarta, Kraton Surakarta dan Perpustakaan Nasional. Toh, santainya birokrat Malaysia menanggapi masalah itu menunjukkan mereka begitu percaya diri menghadapi “saudara tua”nya Indonesia. Dalam kasus terakhir soal Tari Pendet, malah Discovery Channel sudah ‘mengambil alih tanggung-jawab’ dengan meminta maaf kepada Menbudpar melalui e-mail dan berencana langsung bertemu untuk klarifikasi. Sehingga, tak heran kalau pemerintah Malaysia begitu percaya diri mengklaim budaya kita.
Sentimen antar bangsa sendiri jelas mewarnai pertikaian ini. Sejak awal, pemerintah Indonesia yang dipimpin Soekarno menentang pembentukan Federasi Malaysia. Saat itu, Soekarno bahkan mengumandangkan Dwikora pada 3 Mei 1963 yang menandakan deklarasi perang terhadap Federasi Malaysia. Federasi Malaysia memang merupakan upaya Inggris menggabungkan koloninya di Kalimantan yaitu Sarawak, Britania Borneo Utara yang kemudian dinamai Sabah, dan Brunei dengan koloninya di Semenanjung Malaya termasuk Singapura. Ini merupakan bagian dari penarikan Inggris secara bertahap dari hampir seluruh koloninya di seluruh dunia. Tindakan ini dianggap pemerintah Indonesia pimpinan Soekarno sebagai ancaman terhadap kedaulatan Indonesia dan bentuk imperialisme baru.
Dendam sejarah ini rupanya terus bergejolak sehingga ungkapan khas Soekarno “ganyang Malaysia” kembali dikumandangkan saat konflik meruyak dengan negeri jiran itu. Apalagi konflik yang sifatnya fisik seperti perebutan kawasan Ambalat. Ditambah lagi Indonesia kalah sebelum bertempur secara memalukan dalam perang melawan Malaysia itu. Operasi militer berupa infiltrasi milisi Indonesia banyak disabot oleh unsur di dalam negeri sehingga memberikan keuntungan bagi Malaysia dan Inggris. Hal ini kemudian mengakibatkan gugurnya sejumlah martir termasuk Usman dan Harun.
Meski perang Dwikora padam dengan jatuhnya Soekarno dari tampuk pimpinan negeri, sentimen antar bangsa ini masih terasa hingga kini. Dengan aneka klaim terhadap budaya Indonesia ditambah klaim wilayah, patut dipertanyakan niat negeri tetangga itu. Secara persenjataan militer, alutsista kita memang kalah dengan Malaysia. Akan tetapi, itu belum tentu menjadikan Malaysia pasti menang bila bertempur dengan Indonesia. Pengalaman Polandia yang angkatan bersenjatanya takluk dalam satu bulan saat melawan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II bisa jadi pelajaran. Padahal, saat itu kekuatan angkatan bersenjata Polandia sekitar 10 X lipat angkatan bersenjata Nazi Jerman. Ada banyak unsur dalam peperangan yang bisa berujung pada hasil berbeda. Sehingga, kalau memang kita mau konfrontasi, jangan takut! Apalagi oleh Discovery Channel, stasiun televisi yang sama yang menayangkan iklan kontroversial “Tari Pendet made in Malaysia” itu, Kopassus TNI AD ditempatkan sebagai pasukan khusus terbaik ketiga di dunia setelah SAS (Inggris) dan IDF (Israel). Jadi, buat apa takut sama Malingsia!
Foto: Kompas Cyber Media
Filed under: History / Sejarah, News/Berita Tagged: | angkatan, Bali, berikat, bersenjata, budaya, Discovery, Dwikora, federasi, iklan, Indonesia, Inggris, Jerman, Jero Wacik, klaim, KLCC, Kopassus, Menteri, minyak, Nazi, pariwisata, pendet, perang, Perang Dunia II, pesawat, Polandia, sejarah, Soekarno, tari, TNI, visit











malaysia ki kudu di ganyang!
kunjungan pertama..
duh kok jadi begini ya…seharusnya ga kayak begitu, malaysia kok jadi suka mangsa budayanya negara lain.
yah dari segi pembangunan, Malaysia memang jauh lebih jago.
Salam,
Ramai kaum melayu di Malaysia bukanlah melayu asli.Ramai dari kaum melayu mempunyai datuk nenek dari bangsa indonesia yang telah menjadi warganegara Malaysia. Anak-anak malaysia juga dibesarkan dengan bantuan bibik dari Indonesia. Malaysia mengamalkan sistem terbuka dimana drama indonesia bergitu banyak disiarkan di tv malaysia. Penyanyi indonesia juga bergitu porpular di malaysia. Oleh kerana itu, masalah kebudayaan ini memang agak berlainan di Malaysia. Lagu rasa sayang itu memang selalu menjadi siulan warga malaysia sehinggakan kami sememangnya tidak tahu dari mana asalnya. Oleh itu…jika warga indonesia merasai kami selalu mengakui, indonesia dan malaysia itu bersaudara … sememangnya bergitulah anggapan kami. Jika saudara di indonesia merasai kami mengambil ….sebenarnya… kebanyakkan kami juga tidak mengerti kerana semuanya kelihatan sama……
Ramai juga diantara warga malaysia yang kerap bercuti dan membeli belah di Indonesia. Barangan diindonesia cantek lagi murah harganya seperti kain baju kebaya dan kek lapis kesukaan saya.
Mungkin kerana kami warga Malaysia bersikap lebih terbuka lalu kami masyarakat kebanyakkan tidak mengambil pusing hal kebudayaan.
Harap maaf.
[...] LifeLearner chekdenoor on Jangan Takut Pada Malaysi…nie on Ucapan Anak: Baik & Sopan …Iwan on Komunitas Pengusahafara on [...]
Wajah mirip serupa, bahasa sama difahami, Bersempena bulan syawal yang mulia ini, saya mengucapkan ‘Selamat Hari Raya, Maaf Zahir dan Batin’ kepada seluruh umat Islam sama ada di Malaysia mahupun di Indonesia….Moga berkekalan keamanan dan kedamaian diantara kedua dua negara tetangga yang pasti membawa kebaikan kepada kita ……Amin..
Selamat Hari Raya Idulfitri
Satoe masa doeloe filem-filem P. Ramli menjadi kesukaan anak-anak muda yang dilamun cinta di seluruh nusantara, baik di malaya, di sulawesi, betawi atau surabaya. Tanya ibu dan ayahmu. Perfileman di indonesia pada masa itu belum berkembang lagi,
Keturunan bangsa-bangsa melayu dari nusantara berhijrah ke malaya membawa bersama kebudayaan yang mereka amalkan dan sangat dipelihara dengan sayangnya.
Apakah hak anak-anak muda indonesia sekarang melarang keturunan jawa, minang, bugis dan ratusan marga lain dari mengamalkan budaya nenek moyang mereka yang juga nenek moyang anda semua?
Wahai anak muda yang tidak mengenali saiful bahri, s. effendi dan beng slamet, jangan berlaku sombong.
Kenali siapa yang menganiaya PRT2, bukan kami orang Melayu. Kami memandang dengan sedih dan pilu bagaimana PRT anda bekerja dengan majikan yang bukan keturunan nusantara.
Kami tidak ada masa untuk polemik kebudayaan yang seharusnya anda berasa bangga jika bangsa lain, meskipun orang bule mengamalkannya. Budaya diperkembangkan bukan untuk menjadi alasan “perang”.
Hairan bin Ajaib
Tuh khan, gemar memandang remeh orang lain. Itulah kenapa dengan mudahnya kalian membuat kosa kata baru “indo*” kepada saudar-saudara kami di sana. Uber Alles, gemar memandang remeh orang lain.
Perfileman Indonesia belum berkembang? Maaf Bang, Sejarah Film Indonesia dimulai sejak 5 Desember 1900, tahun 1926 kami yg masih dijajah ini sudah bisa buat film bisu, tahun 1931 adalah awal pembuatan film lokal yang bersuara, Tahun 1955 adalah Festival Film Indonesia yang pertama. Tahun itu Film “Djam Malam” menjadi film terbaik dan ikut festival Film Asia II di Singapura. Di mana saat itu kalian berada? Apalagi perkembangan di era P. Ramlee atau bahkan di jaman sekarang?
Tidak ada yang melarang meneruskan adat-istiadat saudara-saudara kami di sana, itu bagus. Hanya saja, janganlah memutarbalikkan riwayat sejarah, Minangkabau bibitnya di Sumatera Barat, bukan di Papua atau Semenanjung, Maluku adanya di perairan Laut Arafuru bukan Malaka, Rendang dari Sumatera Barat – Indonesia bukan dari negara mu, Angklung dari Jawa Barat bukan Semenanjung, Reog dari Ponorogo bukan dari Jaman Sulaiman.
Silahkan pakai, gunakanlah tapi …. jujurlah, jangan mengada-ada, jangan mengaku-aku produk itu berasal dari kalian. Dalam Islam pencuri wajib potong tangan, bukankah begitu hukumnya? Mengguna dan mengaku-aku adalah dua hal yang berlainan.
Heran bin Ajaib.
senang baca komentar saudara chekdenor…kita ini saudara…sampai saat ini kami yang di indonesia dan keluarga yang di malaysia masih saling mengunjungi. gak peduli sama isu isu yang berkembang soal klaim kebudayaan.
urusan pemerintah biar pemerintah kita saja yang urus. saya dan keluarga tetap saling mengunjungi sampai kapan pun…
hehehehe