TROMPET
Dili, 12 November 1991
”Seharusnya kutiup kau malam itu.”
Supaya orang-orang yang terbunuh
bangkit lagi dari kematian?
”Seharusnya kutiup kau malam itu.”
Supaya mayat-mayat yang dikubur tanpa nisan
menguak tanah yang menguruknya dan
merangkak pelan menuju gubernuran?
”Seharusnya kutiup kau malam itu.”
Supaya mereka yang tertembak bisa berjalan
ke gereja dengan tubuh berlubang dan
berdoa dengan darah di mulutnya sehingga
tak ada suara yang terdengar
selain bunyi kebencian?
”Seharusnya kutiup kau malam itu.”
Mainkan jazz saja Wynton,
kita tidak bicara politik waktu sarapan.
Seno Gumira Ajidarma
29 Desember 1991
Catatan Bhayu M.H.: Ini adalah puisi karya Seno Gumira Ajidarma yang dilatari oleh Tragedi/Insiden Santa Cruz-Dili-Timor Timur, 12 November 1991. Selain itu ia juga menulis 12 cerpen terinspirasi dari peristiwa yang sama. Bagi Anda yang masih ingat, peristiwa tersebut menjadi noda hitam dalam masa integrasi Timtim sebagai provinsi ke-27 Republik Indonesia. Konon dalam peristiwa tersebut aparat ABRI melakukan penembakan membabi-buta guna membubarkan kerumunan massa dalam demonstrasi yang mengakibatkan banyak orang tewas. Meski begitu, secara resmi ABRI dan pemerintah RI tidak mengakui adanya peristiwa penembakan tersebut. SGAmenulis puisi dan cerpen terutama didasari laporan untuk majalah Jakarta-Jakarta tempat ia bekerja. Dimana laporan yang masuk ternyata berbeda dengan versi resmi pemerintah. Dan ia sebagai pimpinan media memutuskan memuat laporan versi berbeda tersebut. Untuk itu pun ia harus rela ‘digeser’ dari posisinya di majalah tersebut. Puisi ini menjadi semacam saksi dari kejadian kelam dalam sejarah modern Indonesia itu. Dimana ia tidak dapat menuliskannya sebagai berita karena adanya tekanan dari kelompok usaha penerbit majalahnya dan pemerintah.
Filed under: Poem/Puisi Tagged: | benci, bunuh, darah, Dili, gereja, Gubernur, mati, poem, puisi, Santa Cruz, Seno Gumira Ajidarma, SGA, Timor Timur










