Sayang, tidak ada lembaga yang mengeluarkan sertifikasi untuk komentator. Juga tidak ada sarjana komentar. Tapi, kenapa banyak sekali orang Indonesia yang berprofesi sebagai komentator? Sudah begitu, tidak dibayar lagi. Sebabnya cuma satu: berkomentar itu mudah. Tanpa memikirkan apa pun, berkomentar itu cuma sekejap keluar dari mulut. Karena itu, ada adagium “lidah lebih tajam daripada pedang”. [...]
Filed under: Daily Life/Kejadian Sehari-hari | Tagged: Inca, Komentar, komentator, maya | Leave a Comment »










