Obama dan Indonesia

Hari ini, saya membaca The Jakarta Post edisi Minggu. Ada dua tulisan tentang Obama  berbentuk feature opini yang menarik perhatian saya. Satu di halaman pertama berjudul “On Obama:Hopeful, inspired but never wishful” tulisan Lynda Ibrahim, dan yang kedua di halaman lima berjudul “Papuan for President?” tulisan Simon Pitchforth. Dua tulisan itu senada dengan tulisan saya beberapa hari lalu. Negara kita yang kebetulan saja pernah ditinggali oleh Obama di waktu kecilnya, lantas merasa begitu ‘attached’ dengan Presiden terpilih A.S. itu.

Padahal, Obama tidaklah menjanjikan apa-apa kepada Indonesia. Bahkan ia amat jarang menyebut negeri kita dalam kampanyenya. Paling-paling ia menjawab saat ditanya dalam wawancara atau talkshow, apalagi saat kubu Mc.Cain memfitnahnya pernah sekolah di “Jihad School” selama di Indonesia. Atau saat membantah ia pernah beragama Islam.

Kalau ‘orang-orang’ di masa lalunya saja seperti Rev. Wright dan Bill Ayers bisa diputuskan koneksinya oleh Obama, bisa saja Indonesia pun bernasib sama bukan? Itu yang diingatkan oleh Lynda. Ia mengatakan, semestinya kita tidak larut dalam euforia karena senada dengan yang dikatakan oleh Simon, Obama sebenarnya ketiban pulung. Dalam istilah Simon, Obama telah mendapatkan pekerjaan terburuk di dunia untuk membersihkan segala kekacauan yang saat ini sedang berlangsung. Tentu saja kekacauan yang dimaksud termasuk soal perdamaian dunia, resesi ekonomi, dan seabrek pekerjaan rumah lainnya.

Dengan agenda kita tahun depan akan mengadakan Pemilu juga -termasuk Pemilu Presiden-, semestinya kita bisa berkaca dari fenomena terpilihnya Obama ketimbang larut dalam euforia, apalagi mengkait-kaitkan diri dan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan Presiden ke-44 negara adikuasa itu. Salah satu teladan yang bisa dipakai adalah berhasilnya A.S. maju setapak lagi dalam upaya penghargaan HAM dan kesetaraan ras. Padahal, pada dekade 1950-60-an, A.S. masih bersifat diskriminatif kepada ras kulit berwarna. Hingga memunculkan para pejuang persamaan hak seperti Martin Luther King Jr., Malcom X,  Rosa Parks, hingga Jesse Jackson.

Maka, wacana yang dimunculkan Simon patut pula dipertimbangkan: Mungkinkah orang Papua jadi Presiden? Dalam bacaan saya, pertanyaannya adalah: Mungkinkah orang non-Jawa jadi Presiden Indonesia?

3 Responses

  1. [...] Obama dan Indonesia (lifeschool.com) – Artikel bagus terkait artikel Jakarta Post di atas. Can a Papuan be president? haha Nice! [...]

  2. Orang Papua dan luar Jawa tentu bisa jadi presiden, asal ada yang capable dan tentu harus sangat fleksible karena keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia memerlukan orang yg benar2 kuat mental, punya visi sekaligus nasionalis, bukan kedaerahan.

  3. Paragraf terakhir.. :-D
    Sangat mungkin…tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat ;-)

Leave a Reply