Film Laskar Pelangi (II)

Saya mencatat ada sejumlah perbedaan antara film dengan novelnya:

  1. Dalam film, kisah Lintang bertemu buaya tidak dibuat sedramatis di novel. Pertemuan Lintang dengan Bodengadan tindakan Bodenga mengusir buaya juga tidak sama. Di novel dikisahkan ia menepuk kepala buaya, sementara di film hanya dilihat dari jauh saja. Dari gambar yang ada, tampaknya buaya dan pemain berada di lokasi berbeda di filmnya. Ini mungkin karena kru Miles Production kesulitan menghadirkan buaya asli dan pawangnya.

  2. Karakter Lintang dan Mahar dalam film terasa lebih membumi dibandingkan di novelnya.

  3. Hilangnya Flo dalam novel lebih detail daripada di film.

  4. Tarian saat karnaval di film dikatakan terinspirasi dari suku Asmat, sementara di novel dari suku Masai di Afrika.

  5. Tidak ada adegan Flo memberi majalah National Geographic kepada Mahar dalam novel, tapi di filmnya malah jelas sebagai sumber inspirasi untuk tema karnaval. Tampaknya ini sponsor.

  6. Di film juga ada sejumlah detail terlihat untuk banyak brand yang ngetop di masa itu. Saya tidak tahu apakah itu memang sponsor atau bukan. Tapi penghadirannya menghadirkan suasana yang pas. Di novel nyaris tidak ada nama brand yang muncul, kecuali tentu saja PN Timah.

  7. Penggambaran ketimpangan antara wilayah yang dikuasai PN Timah dan perkampungan penduduk di luarnya tidak tampak tegas dalam film. Ini jelas karena PN Timah juga menjadi sponsor seperti tampak dalam poster dan website resminya (http://www.laskarpelangithemovie.com). Toh PN Timah masih berbaik hati membolehkan tulisan plang larangan yang terasa kejam itu muncul di film.

Benang merah cerita juga jadi terasa tegas ditambah sejumlah momen mengharukan yang ditandai dengan slow motion. Tambahan adegan kesepuluh murid melafalkan sila-sila Pancasila dan ending title berupa bunyi pasal 31 UUD 1945 menambah bobot nasionalisme dan rasa bangga berbangsa. Sebuah sentuhan manis dari sutradara handal ini. Tak salah bila Mizan Production dalam produksi film perdananya ini memilihnya.

Jadi, jangan sampai ketinggalan menyaksikan film ini ya. Minimal jadi mensyukuri betapa kita yang masih bisa menonton bioskop masih lebih beruntung ketimbang mereka di Belitong sana yang bahkan kesulitan menyaksikan film yang berkisah tentang daerah mereka sendiri. Belum lagi di area-area lain yang bisa jadi lebih mengenaskan ketimbang pulau kaya tambang itu. Ironis.

Foto illustrasi diambil dari website resmi: http://www.laskarpelangithemovie.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s