1970. Dalam tahanan rumah penguasa baru negeri, Soekarno wafat. Ia wafat dalam keadaan dinista. Padahal, dialah pendiri negeri bersama sejumlah Bapak Bangsa lainnya. Meski begitu, Soeharto tetap memerintahkan pemakaman kenegaraan untuknya. Meski ia berwasiat untuk dimakamkan di Bogor, di rumah Ratna Sari Dewi Soekarno yang disebut Hing Puri Bima Cakti, Soeharto memerintahkan agar Soekarno dimakamkan di Blitar. Maka jadilah dari Wisma Yaso (kini jadi Museum Sejarah ABRI Satria Mandala) di Jakarta jenazahnya dibawa ke Blitar melalui udara.
Banyak hal yang masih jadi misteri seputar kematiannya. Orde Baru tidak pernah secara resmi menyatakan Soekarno dalam tahanan. Namun jelas dari berbagai buku seperti Sewindu Dekat Bung Karno karya Bambang Widjanarko terungkap kesaksian bahwasanya di akhir hidupnya beliau dilarang menerima tamu tanpa seizin Kodam Jaya. Bahkan seluruh stafnya diganti dan anak-istrinya pun dibatasi kunjungannya. Bacaan dilarang dan tentu saja juga dilarang berkomunikasi dengan siapa pun dengan cara apa pun. Belum lagi isyu bahwa pengobatan yang diterimanya di bawah standar kepatutan medis.
Bagaimanapun caranya Sang Penyambung Lidah Rakyat ini coba ‘diekskomunikasi’kan, toh ia tetap di hati rakyat. Prosesi pemakamannya yang ternyata dihadiri ratusan ribu pelayat -terutama dari rakyat jelata- membuktikan hal itu.
Sumber foto: alumnigmni.org
Filed under: History / Sejarah Tagged: | Indonesia, presiden, Proklamator, RI, Soekarno, Sukarno, wafat











