Dalam konteks ajaran agama Islam, sirik atau ejaan aslinya “syirik” adalah menyekutukan Tuhan dengan apa pun.Ini termasuk dosa besar bagi muslim. Namun dalam konteks bahasa Indonesia “yang ancur en ngaco”, sirik adalah “kata gaul” untuk “iri hati”. Buat anak muda, dikatain “sirik aja lo” berarti “iri hati saja sih kamu.”
Semua orang pasti menolak kalau dikatakan punya sifat buruk. Dan iri hati ini tentu sifat buruk. Bahkan juga masuk dalam dosa bagi muslim. Tapi seringkali kita melakukannya dalam kehidupan.
Satu tanda iri hati yang paling jelas adalah “tidak senang kalau orang lain senang, dan sebaliknya justru senang kalau orang lain susah”. Ciri fisiknya biasanya mata akan menyipit dan kalau di sinetron, ditambah bibir mencibir. Sebenarnya, sirik itu tanda tak mampu. Bila kita pernah mengatakan kalimat semacam “gitu aja gue juga bisa”, “huh, dia sih orang kaya, pantes sukses”, “anak kemarin sore aja tahu apa”, dan yang senada, berarti kita masuk kategori iri hati.
Saya sendiri sering sekali begitu. Apalagi yang tampak di permukaan seringkali berbeda dengan kenyataan. Makanya ada istilah don’t judge the book by the cover. Jangan hakimi sesuatu dari tampaknya saja. Kalau ada orang berjenggot dan berjubah, belum tentu dia lebih saleh daripada yang tidak. Kalau ada yang terlihat hidupnya lurus, belum tentu begitu dalam kesehariannya.
Pokoknya, dalam hidup ini, kita tidak berhak menghakimi. Biarlah itu jadi urusan Sang Maha Pengadil di Hari Penghakiman kelak.
Filed under: About Value/Tentang Nilai | Tagged: dosa, sirik, syirik










SETUJU!
SETUJU!