Demonstran

Apa sih rasanya jadi demonstran? Gagah? Peduli rakyat? Pahlawan?

Coba tanyakan pada teman-teman yang pernah ikut berdemo. Rasanya tentu tergantung dari eksesnya. Kalau demonya berhasil ya rasanya ikut memenangkan sesuatu yang besar. Tapi kalau gagal, bukan cuma malu, tapi bisa jadi takut. Saya pun jadi teringat film Imagining Argentina yang suram itu.

Tapi apa yang terjadi setelah demonstrasi usai? Lebih tepatnya lagi pasca musim demo usai? Banyak yang keteteran rupanya. Karena demo ternyata tidak cuma menuntut energi untuk teriak-teriak, tapi waktu lebih banyak untuk perencanaan dan persiapan. Kebanyakan pimpinan mahasiswa justru jadi drop-out pasca musim demo usai.

Baru-baru ini ada liputan di Kompas soal mantan aktivis 1998. Ternyata jalan hidupnya berbeda-beda. Ada mantan mahasiswa Universitas Trisakti yang kini sudah jadi pengacara, padahal dia dulu terkenal secara ‘tidak sengaja’ karena fotonya dimuat di Kompas sedang tergeletak pingsan di jalan pada 12 Mei 1998. Juga ada cerita mahasiswa D.O. karena keasyikan demo.

Saya pernah membaca cerpen Jujur Prananto berjudul Seusai Revolusi yang dimuat Kompas minggu di tahun 1999. Cerpen ini juga masuk dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas tahun 2000. Inti ceritanya adalah mantan demonstran yang kesulitan menyambung hidup karena D.O. dari kampus. Sialnya, ternyata demonstrasinya berhasil. Negara menjadi lebih baik dimana korupsi, kolusi, dan nepotisme diberantas. Jadi sang mantan aktivis itu tidak bisa memanfaatkan link aktivisnya untuk mencari kerja.

Untunglah (heh?) cerita di cerpen itu tidak terjadi di negeri kita. Korupsi, kolusi, dan nepotisme jelas belum diberantas. Dan jaringan aktivis tetap bisa dipelihara. Para aktivis yang berhasil masuk ke jajaran pemerintahan pasti membawa gerbong. Juga yang jadi anggota parlemen. Tapi tidak begitu yang sukses di bisnis, karena ia biasanya justru menghindar dari hingar-bingar seperti yang pernah dialaminya dulu.

Pada akhirnya, semua itu adalah pilihan hidup. Jadi demonstran atau tidak, itu tergantung nurani masing-masing. Dan apa yang dilakukan setelahnya, juga semata strategi menyiasati perut. Namun ketika kondisi negara-bangsa carut-marut, tegakah kita menyelamatkan diri sendiri?

Leave a Reply