Menghadapi Pelecehan

“Hanya satu kata, lawan!” (Peringatan. Puisi oleh Widji Thukul, 1986)

Pelecehan merupakan awal dari tindakan lain yang lebih merendahkan. Orang yang gemar melecehkan lawan jenisnya merupakan orang yang tidak bermoral, tidak punya hati, dan tidak pantas disebut manusia. Saya pernah berkelahi dengan seorang preman di tahun 2004 karena melecehkan kekasih saya (waktu itu, sekarang sudah mantan).

Mantan kekasih saya itu sendiri pernah mempermalukan seorang aparat kepolisian karena mencoba melecehkannya.  Ceritanya waktu itu sudah tengah malam saat mantan kekasih saya yang seorang reporter pulang dari tugasnya. Di tengah perjalanan, taksi yang ditumpanginya terkena razia polisi. Nah, sang polisi yang memeriksa mencoba melecehkan dengan mengucapkan kalimat yang menuduh mantan kekasih saya itu seorang pelacur.

Kontan ia menelepon seorang jenderal polisi dan meminta polisi yang melecehkannya itu bicara dengan sang jenderal. Karuan saja sang polisi pucat dan minta maaf. Toh dengan santainya ia malah menukas, “Mbak sih dari tadi nggak bilang kalau wartawan.” Walah, terus kalau bukan wartawan dan tidak kenal jenderal lantas boleh dilecehkan, gitu?

Sebenarnya, cara menghadapi pelecehan apalagi seksual adalah dengan mempraktekkan isi puisi Widji Thukul yang saya kutip di atas: “Lawan!” Bagaimana cara melawannya? Tetap tenang, dan utamakan keselamatan anda. Terutama bila anda wanita dan pelecehan terjadi di tempat umum. Saya coba mengetengahkan cara sederhana melawan pelecehan seksual:

  • Ingatlah yang salah adalah otak kotor atau piktor (pikiran kotor) si peleceh, bukan anda. Jadi tidak masalah pakaian apa yang anda pakai. Wanita berjilbab pun bisa dilecehkan dengan kalimat kotor.
  • Jangan pedulikan isi atau content dari ejekannya. Tidak ada satu pun yang benar. Fokuslah pada kalimat atau tindakan pelecehannya.
  • Bila orang tersebut anda kenal, misalnya rekan sekerja atau atasan anda, catatlah detail kejadiannya. Kalimatnya, tindakannya, kapan, dan di mana.
  • Bila orang tersebut anda kenal, usahakan ada saksi atau bukti. Gunakan untuk melaporkannya.
  • Laporkan. Terutama bila orang itu anda kenal. Laporkan pada yang lebih berwenang.
  • Bila anda dilecehkan preman di jalan, jangan takut untuk melawan. Lawanlah minimal dengan pandangan mata menantang dan melecehkan. Bila cukup berani, balaslah dengan kata-kata yang merendahkan ego lelaki. Secara psikologis, lelaki akan marah bila kemampuan seksual atau alat kelaminnya diejek.
  • Usahakan tidak berjalan sendirian di tempat di mana diperkirakan banyak preman atau anak muda pengangguran nongkrong.
  • Balas tatapan mata siapa pun yang tampak melecehkan. Meskipun orang itu pejabat atau tampak berpengaruh sekali pun.
  • Nyatakan secara verbal di hadapan orang-orang lain -terutama bila si peleceh anda kenal- bahwa anda tidak senang dengan kalimat atau tindakannya.

One Response

  1. Masya Allah…..
    ntar malah berantem mas….
    serem amaT……

Leave a Reply