Persahabatan Indonesia-China

Hari ini, saya kebetulan berkesempatan menghadiri pembukaan Rakernas Perhimpunan Persahabatan Indonesia-China yang pertama. Sebenarnya organisasi ini sudah ada semenjak tahun 1955, namun dibekukan oleh Orde Baru dengan Surat Edaran Kabinet Ampera pada tahun 1966. Baru pada tahun 1998 upaya menghidupkan kembali lembaga ini dimulai pasca kejatuhan Soeharto. Di era Abdurrahman Wahid menjabat presiden pada 1999, barulah lembaga yang semula bernama Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok ini lahir kembali. Hanya saja kali ini namanya berubah menjadi Perhimpunan Persahabatan Indonesia-China (PPICh).

Kata “China” dianggap penting ditegaskan karena berbeda dengan “Cina”. Pemerintah RRC sendiri memakai pelafalan ini, sementara “Cina” adalah kata yang dibuat Orde Baru dengan stigma tertentu. Organisasi ini adalah satu-satunya organisasi persahabatan kedua negara yang bersifat G to G atau dari pemerintah ke pemerintah kedua negara. Didirikannya pun dengan SK Menteri Luar Negeri yang ketika itu dijabat Prof. Dr. Alwi Shihab.

Dalam acara pembukaan terlihat hadir para tokoh Tionghoa Indonesia seperti The Nin King dan para pejabat seperti Wakil Duta Besar RRC Madame Yang Lingzhu, pejabat Deplu mewakili Menlu bpk Jujur, Letjen TNI (Purn.) Kuntara -mantan Dubes RI di RRC-, Wakil Ketua MPR A.M. Fatwa, mantan Mensesneg Bondan Gunawan, dan Ketua Kehormatan PPICh Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Hasil dari Rakernas tersebut antara lain mengamanatkan kepada Pengurus Pusat untuk segera melakukan Munas. Hal ini dipandang perlu karena untuk menguatkan hubungan persahabatan kedua negara. Seperti diketahui, menurut data yang dikemukakan oleh Kedubes RRC, Indonesia adalah negara dengan volume perdagangan nomor 17 bagi RRC. Sementara RRC malah nomor empat terbesar bagi R.I. Hal ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya RRC bagi RI.

2 Responses

  1. AKU MASIH BINGGUNG LANDASAN SENTIMEN RAKYAT INDONESIA KEPADA ETNIS CINA LEBIH MERUJUK PADA IDEOLOGI ATAU EKONOMI YANG TIMPANG SICH ?

  2. napa kata Cina mengandung stigma tertentu? Cina bukannya hanyalah terjemahan bahasa Indonesia dari kata China (b.Inggris)? Harus ada standarnya.. Jangan disangkut-pautkan dengan kerusuhan ‘98.. menurut saya itu hanya anggapan orang saja..

    di UI, jurusan yang mempelajari bahasa Cina disebut Sastra Cina. Saya kira itu nama yang benar. Bukan Sastra Tiongkok, Sastra Tionghoa, Sastra China, atau Sastra Mandarin karena merujuk kepada negara yang dipelajari. Dan dalam bahasa Indonesia, negara itu bernama Cina.

Leave a Reply