Islam & Anti-Islam

Anda tahu, awal mula penyebutan kata “Timur Tengah, Timur Jauh” dari mana? Timurnya siapa? Ternyata itu adalah timurnya orang Eropa. Dimulai abad pertengahan dimana saat itu peta bumi belum lengkap terbentuk, maka dibuatlah istilah-istilah itu.

Artinya, negeri-negeri jauh itu berbeda sekali adat istiadatnya dengan para penyebutnya. Asing atau “alien” membuat orang-orang dari negeri jauh itu tak layak jadi bagian dari Eropa.

Ternyata, di zaman teknologi informasi yang memampatkan ruang dan waktu ini, masih ada orang Eropa yang berpikiran ala abad pertengahan. Salah satunya adalah Geert Wilder, seorang anggota parlemen Belanda yang membuat film Fitna.

Film ini benar-benar membuat marah umat Islam, hingga sempat pula memicu demonstrasi di Indonesia. Presiden Yudhoyono sendiri menyatakan kutukannya dan melarang peredaran film itu di Indonesia. Pemerintah Belanda pun melepaskan diri dari kaitan dengan film itu dan menyesalkannya, seraya tetap tidak bisa bertindak apa pun karena melanggar asas kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Pada saat hampir bersamaan, terbersit pula berita bahwa novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie akan dipentaskan sebagai drama di Jerman. LifeLearner tentu masih ingat kalau mendiang Ayatullah Ruhullah Khomeini menjatuhkan fatwa mati bagi Rushdie karena novelnya itu dianggap menghujat Islam.

Kemarin, ada berita lain lagi dari Vatikan. Justru dari pusat umat Katolik Roma dilansir pernyataan resmi bahwa jumlah umat Islam kini adalah yang terbesar di dunia. Monsignor Vittoria Formenti menyatakan, jumlah umat Islam kini sebesar 19,2 persen dari penduduk dunia. Sementara penganut Katolik Roma hanya 17,4 persen. Bila seluruh aliran (disebut denominasi) Kristen yang amat banyak itu digabungkan , pengikut Kristus memang masih 33 persen. Tapi satu sama lain amat berbeda dalam banyak prinsip. Dan Vatikan bukan pemimpin dari yang 33 persen itu.

Apa yang bisa kita tarik dari ketiga hal tersebut? Adanya kekuatiran pada dunia barat Yudeo-Kristiani bahwa Islam akan kembali menguasai dunia, seperti pernah terjadi pada abad pertengahan selama 14 abad. Zaman itu adalah zaman kegelapan bagi Eropa Kristen sementara zaman keemasan bagi dunia Islam.

Maka, diciptakanlah skenario “Clash of Civilization” sebagaimana dilansir oleh Samuel P. Huntington. Untuk melindungi diri dari “ancaman Islam”, dibuatlah berbagai aturan imigrasi yang mempersulit masuknya imigran dari negara Islam. Padahal, barat sangat mengagungkan demokrasi dan keterbukaan, namun itu ternyata hanya untuk sesamanya. Artinya, rasisme masih amat kental di banyak negara.

Ya, saya sudah melihat film Fitna dan membaca novel The Satanic Verses. Filmnya saya tidak punya copy-nya tapi untuk bukunya sudah banyak beredar di Indonesia. Dari keduanya, saya bisa melihat betapa piciknya pikiran para pembuatnya. Mereka diliputi kebencian hingga tidak bisa berlaku adil.

Oleh karena itulah bagi saudaraku sesama muslim, berlaku adillah. Satu hal yang tidak bisa mereka lakukan. Kalau mereka buat novel, buat novel tandingan. Kalau mereka buat film, ayo garap film lagi yang mempropagandakan kebajikan Islam. Kalau karya seni itu dilawan dengan demonstrasi apalagi kekerasan, justru itulah yang dicari dan diharapkan pembuatnya.

Harap diingat, baik Wilder maupun Rushdie bukanlah orang Kristen yang baik, mereka itu ateis. Jadi jangan salah membenci orang Kristen. Juga jangan salah jadi membenci Belanda, Denmark, atau Amerika. Tunjukkan saja akhlakul karimah seperti senantiasa ditunjukkan Nabi. Doa’kan seperti saat Nabi mendo’akan penduduk yang melemparinya, “Ya Allah, ampuni dan berilah petunjuk bagi mereka. Sesungguhnya mereka tidak tahu.”

3 Responses

  1. Assalamu alaikum wr wb,

    Ikutan nimbrung sedikit, agama (Islam juga) memang belum dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang2 barat, karena mereka juga mungkin sedang mencari2 kebenaran agama itu, faktanya walaupun mereka mengaku beragama tapi dalam hal beribadah tidak pernah atau hanya saat2 tertentu saja,oleh sebab itu rumah2 ibadah disana juga banyak yg sepi. Tanpa harus saling menuduh dan membenci agama lain, saya lebih setuju bila kita sebagaii seorang Muslim mampu menampilkan nilai2 Islam dalam segala aspek kehidupan. Syaratnya gampang : konsisten dlm keimanan yg diwujudkan dalam kesamaan perkataan dengan perbuatan.

    Wassalamu alaikum,
    Yogi

  2. Salam Pak Bhayu,
    saya salut dengan pemikiran anda, walau kita berbeda keyakinan (kalau ndak salah) saya sependapat dengan anda. Memang belakangan ini Umat Islam sedang diuji baik soal kartun, teroris, fitna, dll. Cuma intinya saya pribadi sebaiknya org2 muslim bisa menyikapinya dengan sikap terbaik. mari kita buktikan apa yang orang pikir tentang kita sebenarnya adalah salah. Di film fitna pemenggalan makna Al-Quran bisa membuat perbedaan arti secara menyeluruh … memang ada kalimat bunuh dan sejenisnya yg ditekankan di film itu… tetapi baca donk kata-sebelum itu dan sesudah itu sebagai satu kesatuan. Supaya tidak ambigu dan menyimpulkan bahwa agama Islam adalah agama rusuh, bunuh sana-sini dll.

    Salam,
    Hamdi

  3. Maaf,, saya non-muslim..
    Saya masih anak SMA.
    Seorang anak kecil yg mungkin tdk punya hak utk berbicara dan memberi tanggapan.
    Tapi saya tdk bisa menutup mata & telinga saya.
    Saya di sini tdk bermaksud memprovokasi & memperparah keadaan.
    Mungkin benar..
    Kaum Muslim banyak merasa dipermalukan oleh (kasarnya) umat Kristen.
    Tapi apa kalian tahu, kalau banyak umat kristen (khususnya saya sendiri) merasa sangat terluka dengan apa yg saya lihat di website ini (salah satunya):
    http://antikristus.wordpress.com/2007/12/15/sebuah-penantian-membongkar-kebobrokan-kristenisasi/

    saya hanya ingin berpesan (walaupun sebenarnya tdk layak)..
    Kalau anda semua ingin menilai sesuatu hal, jangan hanya dari 1 sisi pandangan saja.
    Karna sebenarnya,,
    banyak juga org kristen yg tdk menghendaki pertentangan seperti ini.

Leave a Reply