Supersemar

Hayo, ada yang masih ingat hari ini tanggal berapa? Betul, 11 Maret. Tapi hari peringatan apakah ini? Well, ini merupakan hari yang sangat diagungkan di masa rezim Orde Baru berkuasa. Yak! Supersemar! Akronim Surat Perintah 11 Maret 1966 ini merupakan ‘jimat sakti’ Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno secara ‘konstitusional’. (tolong perhatikan tanda petik yah…)

Tentu saja, Supersemar ini dianggap sebagai surat pengalihan kekuasaan negara kepada Panglima Kostrad sekaligus Pangkopkamtib dan Men/Pangad ad-interim saat itu: Letnan Jenderal Soeharto (ia belum jadi jenderal saat itu). Padahal, kalau dicermati, isi surat itu hanyalah “Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi. “. Bahkan Presiden Soekarno selaku penandatangan surat juga mewajibkan penerima surat itu untuk “melaporkan segala hasil dan tindakannya kepada Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS” yang tak lain Soekarno sendiri.

Perbedaan penafsiran ini jadi runyam karena Soeharto mengklaim diri sebagai “pengemban Supersemar” dan merasa berhak menjalankan kekuasaan pemerintahan. Maka, sebenarnya sejak 11 Maret 1966 hingga 12 Maret 1967 terdapat presiden kembar di negara kita. Soekarno sebagai Presiden yang secara de jure masih belum dicopot dan Soeharto sebagai Pejabat Presiden yang secara de facto menguasai pemerintahan.

Kerunyaman tak hanya itu, karena ternyata sepanjang Orde Baru berkuasa, dokumen asli Supersemar dinyatakan hilang. Dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, ternyata terdapat 2 versi dokumen. Dan kemungkinan keduanya palsu! Karena menurut keterangan para saksi, dokumen tersebut terdiri dari 2 lembar, sementara foto yang ada menunjukkan hanya 1 lembar. Menurut rumor yang beredar, konon Jenderal TNI (Purn.) M. Yusuf yang menyimpannya dan konon pula sudah diserahkan kepada negara sebelum beliau wafat 8 September 2004. M. Yusuf memang merupakan salah satu dari 3 jenderal yang mendatangi Soekarno di Istana Bogor saat itu untuk mengeluarkan Supersemar yang redaksinya sudah disusun lebih dahulu. Ketiga jenderal itu adalah Mohammad Yusuf, Amir Machmud, dan Basuki Rachmat. Ketiganya masih Brigadir Jenderal (bintang satu) saat itu. Dalam versi Lettu TNI (Purn.) Sukardjo Wilardjito -mantan anggota pasukan Cakrabirawa yang saat itu bertugas di istana Bogor- hadir pula Brigjen TNI Maraden Panggabean. Namun keterangan ini dibantah oleh A.M. Hanafi -mantan Duta Besar Indonesia di Kuba- dalam bukunya A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto.

Yah, kontroversi ini tampaknya memang akan sengaja digelapkan. Bisa jadi segelap misteri lain dalam sejarah manusia. Karena banyak aktornya yang sudah meninggal dan bungkam hingga liang kubur. Bahkan M.Yusuf yang dikagumi banyak orang karena integritasnya pun tak mau buka mulut soal yang satu ini. Bukankah ada adagium “History Written by The Winner”?

2 Responses to “Supersemar”

  1. lha, tentang supersemar mana isinya?

    * thanks mas bayu udah mampir ke blogku :) keknya ga perlu foto deh, pan udah kenal. kita pernah satu kelas, bulan Desember lalu.
    di wordpress, saya punya coretan pribadi, senandung.wordpress.com

  2. Wah, ini Yati yang wartawan cum aktivis itu toh? Teman alumnus Yayasan Pantau juga rupanya… Sori ttg Supersemar, ada trouble waktu itu. Sekarang sudah isi kan? Kita saling berkunjung di blog ya…

Leave a Reply