Today is Car Free Day at Jakarta. After October 14, 2007 when Government of Greater Jakarta Capital Special Province close the main street of Jakarta named Sudirman street until Thamrin street. Today the area which closed from car traffic lies on Old Town. Government planned to held this event monthly. For me, this kind of event is good. But in Indonesia positive thing like this commonly just became ceremonial so turn into artificial thing. Rather than choose breeding consciousness in peoples mind about the importance of environment caring through decrease emission of vehicle, but through power approach with road blockade just to make it free from vehicle especially car. It should be better if love to our environment and earth raised from inner consciousness. If any motivator promoted themselves to ‘move their audience quadrant just like Kiyosaki said or ‘be a successful and rich people’ just through one day seminar, why the same thing can’t do for environment? Is is impossible to make people conscious what the effect of any garbage to the river they throw will flow and stack at it’s estuary and can make flood?
The same way can do with car free. Actually if government would turn into serious action, don’t make busway for Transjakarta only, but make bicycle way. I look many people use bicycle at Jakarta, some of them grouped at BikeToWork community. But likely government doesn’t give proper facility to this silent movement although they have environment consciousness. Beside that, the biggest part of emission’s contributors is not private owned car, but public transportation. I think everyone live or visit Jakarta can see how black smog came out from their muffler, even everyday Goverment Transportation Body ask for retribution money from them. So what they control then? What for they pay? Just for not giving ticket and allow riding improperly vehicle?
Above all car free day just move point of traffic. Luckily today the restricted area for car lies in Old Town which empty traffic relatively and today is Sunday which not as full traffic as another day. A month before whenever government blockade the most vital street in Jakarta and done at Saturday, traffic jam happened heavily at supporting and satellite areas like Bintaro, Bekasi, Tangerang, and another alternative road. I think they must pay attention on this than chasing ‘environment project’ to gain international fund. Cultural movement is better to applied than ‘force’ like what they do today. What they do today more feel counterfeit action because government officials who came for ceremony using long vehicle convoy. Gosh!
Hari ini di Jakarta dicanangkan sebagai hari bebas kendaraan. Setelah pada tanggal 14 Oktober 2007 lalu Pemda DKI menutup ruas jalan Sudirman-Thamrin, kali ini penutupan jalan dilakukan di kawasan Kota Tua. Rencananya, kegiatan ini akan dilakukan tiap bulan. Buat saya, kegiatan macam ini sih bagus-bagus saja. Hanya saja di Indonesia kegiatan positif macam ini cuma jadi ajang seremonial sehingga terkesan artifisial. Bukannya membudayakan pentingnya menjaga lingkungan termasuk dengan mengurangi emisi kendaraan bermotor, tapi lewat pendekatan kekuasaan dengan memblokir jalan supaya bebas kendaraan. Alangkah baiknya kecintaan terhadap lingkungan justru dengan menimbulkan penyadaran dari dalam diri kita semua. Kalau katanya para motivator bisa membuat orang ‘pindah kuadran’ ala Kiyosaki atau ‘jadi sukses dan kaya-raya’ hanya lewat seminar sehari, mengapa hal serupa tidak bisa dilakukan untuk lingkungan? Apakah tidak bisa orang dibuat sadar bahwa sampah yang dibuang sembarangan di kali akan menumpuk di muara dan kelak menyebabkan banjir? (Karena kantor saya di kawasan Manggarai, Jakarta, saya bisa melihat tumpukan sampah di pintu airnya hampir tiap hari.).
Demikian pula dengan bebas kendaraan. Sebenarnya kalau pemerintah mau serius, tidak sekedar membuat jalur khusus bus (busway) untuk bus TransJakarta, tapi juga membuat jalur khusus sepeda. Selama ini saya melihat sudah banyak yang memakai sepeda di Jakarta, antara lain yang tergabung dalam komunitas BikeToWork. Tapi tampaknya pemerintah tidak memfasilitasi gerakan yang tanpa gembar-gembor sudah sadar lingkungan ini. Selain itu sebenarnya penyumbang emisi terbesar bukan kendaraan pribadi yang relatif lebih terawat, tapi justru angkutan umum. Anda pasti pernah melihat asap hitam pekat dari knalpot buskota, padahal tiap hari Dishub memungut iuran retribusi dari mereka. Lalu apanya yang dikontrol? Buat apa mereka membayar? Apa semata biar tidak ditilang dan dibolehkan menjalankan kendaraan tak laik jalan?
Terlebih lagi hari bebas kendaraan nyata-nyata cuma memindahkan titik kemacetan. Untung kali ini yang ditutup di kawasan Kota yang relatif sepi dan hari Minggu. Bulan lalu saat yang ditutup justru jalan paling vital di Jakarta dan di hari Sabtu pula, kemacetan melanda sepanjang siang hingga malam di daerah penyangga seperti Bintaro, Bekasi, Tangerang, dan jalan-jalan alternatif lain. Mustinya ini lebih diperhatikan daripada mengejar ‘proyek lingkungan’ agar dapat dana internasional. Gerakan pembudayaan rasanya lebih mengena daripada ‘pemaksaan’ seperti yang dilakukan hari ini. Lebih terasa palsu karena pejabat-pejabat dan petugas yang datang malah menggunakan kendaraan bermotor lengkap dengan iring-iringan yang panjang. Halah!
Filed under: Daily Life/Kejadian Sehari-hari | Tagged: Car Free Day, Jakarta









